twitter
rss

Bermain pada anak merupakan salah satu sarana untuk belajar. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang kaya. Baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya.

Ada 5 karakteristik bermain, yaitu :

1. Bermain merupakan sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai yang positif bagi anak.

2. Bermain didasari motivasi yang muncul dari dalam. Jadi anak melakukan kegiatan tersebut atas kemaunannya sendiri.

3. Bermain sifatnya spontan dan sukarela, bukan merupakan kewajiban. Anak merasa bebas memilih apa saja yang ingin dijadikan alternatif bagi kegiatan bermainnya.

4. Bermain senantiasa melibatkan peran aktif dari anak, baik secara fisik maupun mental.

5. Bermain memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain. Seperti kemampuan kreatif, memecahkan masalah, kemampuan berbahasa, kemampuan memperoleh teman sebanyak mungkin dan sebagainya.

Apa manfaat bermain untuk anak ?

Aspek fisik, dengan mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan yang banyak melibatkan gerakan-gerakan tubuh, akan membuat tubuh anak menjadi sehat.
Aspek perkembangan motor kasar dan halus, hal ini untuk meningkatkan ketrampilan anak
Aspek sosial, anak belajar berpisah dengan ibu dan pengasuh, anak belajar menjalin hubungan dengan teman sebaya, belajar berbagi hak, mempertahankan hubungan, pemecahan masalah, perkembangan bahasa dan bermain peran sosial.
Aspek bahasa, anak akan memperoleh kesempatan yang luas untuk berani berbicara. Hal ini penting bagi kemampuan anak dalam berkomunikasi dan memperluas pergaulannya.
Aspek emosi dan kepribadian. Melalui bermain, anak dapat melepaskan ketegangan yang dialaminya. Dengan bermain berkelompok anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan yang dimiliki sehingga dapat membantu pembentukkan konsep diri yang positif, mempunyai rasa percaya diri dan harga diri.
Aspek kognisi. Pengetahuan yang didapat akan bertambah luas dan daya nalar anak juga bertambah luas, kreativitas, kemampuan berbahasa dan peningkatan daya ingat anak.
Aspek ketajaman panca indera. Dengan bermain anak dapat lebih peka pada hal-hal yang berlangsung di lingkungan sekitarnya.
Aspek perkembangan kreativitas. Kegiatan ini menyangkut kemampuan melihat sebanyak mungkin alternatif jawaban. Kemampuan divergen ini yang mendasari kemampuan kreativitas seseorang.
Terapi. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengubah emosi negatif menjadi positif dan lebih menyenangkan.

Dalam memilih alat bermain yang digunakan anak, sebaiknya :

1. Tidak berbahaya, seperti permainan yang memiliki sudut runcing, mengandung warna yang beracun, sambungan kurang kuat, mudah rusak, sebaiknya dihindari.

2. Bukan semata pilihan orangtua, bila orangtua cenderung memaksakan pilihannya, sementara anak tidak senang, anak akan menolak meski sebenarnya alat tersebut sangat bermanfaat.

3. Sesuai dengan usia anak.

4. Tidak terlalu rumit, anak akan menjadi kurang berminat.


Sumber : IDAI Cabang DKI Jakarta

Menurut David Wechsler, intelejensi adalah kemampuan untuk
bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi
lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan
bahwa intelejensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan
proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelejensi tidak dapat
diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai
tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional
itu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intelejensi adalah :
1. Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu
keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi
nilai tes IQ-nya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah
pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50
dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20
dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak
kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap
berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah
saling kenal.
2. Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir,
ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan
yang berarti. Intelejensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak.
Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi.
Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional
dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
3. Intelejensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti intelejensi dengan IQ, padahal
kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar.
Arti intelejensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau
tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari
sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya
memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang
dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara
keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan
umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang
disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan
kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat
itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian
dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi
kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan,
Tiga Tahun Pertama yang Menentukan
Hal. 9 dari 46
tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi
penurunan kemampuan.
Pengukuran Intelejensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang
psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai
untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas
khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes
Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika
mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan
utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan
kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan
chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford-Binet. Indeks
seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman
yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence
Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk
mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet
adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini,
Charles Sperrman mengemukakan bahwa intelejensi tidak hanya terdiri
dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari
faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor
Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori
faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang
dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk
anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes
dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di
mana alat tes tersebut dibuat.
Intelejensi dan Bakat
Intelejensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan
umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam
kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang
amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan
pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya
pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu setelah melalui
suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes
intelejensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan
khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes
intelejensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini
disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk
mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational
Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude
Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record
Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test
atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan
Kuder Occupational Interest Survey.
Intelejensi dan Kreatifitas
Kreatifitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang
intelligent karena kreatifitas juga merupakan manifestasi dari suatu
proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreatifitas dan
intelejensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan.
Walau ada anggapan bahwa kreatifitas mempunyai hubungan yang
bersifat kurva linear dengan intelejensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh
dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah
memang diikuti oleh tingkat kreatifitas yang rendah pula. Namun
semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreatifitas yang tinggi
pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup
berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya
hubungan antara IQ dengan tingkat kreatifitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P.
Guilford menjelaskan bahwa kreatifitas adalah suatu proses berpikir
yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai
alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes
intelejensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang
bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban
atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini
merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang
memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau
kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang
dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Sumber :Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Periode peka perkembangan otak terjadi pada saat bayi belum
lahir dan sesudah lahir. Panjang periode peka tersebut bisa lama, dan
bisa juga sangat pendek. Dr. Montessori telah banyak melakukan
penelitian tentang periode peka pada perkembangan anak, jauh sebelum
para ahli syaraf mengetahui tentang cara kerja bagian-bagian otak.
Ternyata, periode peka yang ditemukan oleh Dr. Montessori itu
berhubungan erat dengan periode dimana jaringan otak yang
mengendalikan fungsi-fungsi tubuh itu sedang tumbuh dan berkembang.
Munculnya periode peka ini bisa berlainan pada tiap-tiap anak,
tergantung pada faktor keturunan dan terlebih lagi pada stimulasi yang
pernah diterima oleh anak.
Pada periode peka ini, anda akan lebih mudah mengajarkan hal-hal
yang sedang peka itu daripada setelah periode peka ini berakhir.
Hubungan anda dengan anak anda akan sangat mempengaruhi
berhasil tidaknya anak anda menerima stimulasi, yang pada akhirnya
menentukan bagaimana jaringan otak anak anda akan dibentuk.
Di dalam e-Book ini dibahas dengan detail tentang
perkembangan apa saja dan kapan periode peka itu muncul, stimulasi
dan tindakan apa saja yang perlu dilakukan oleh orang tua.

Perkembangan Otak Anak
Hubungan antar sel-sel otak dibentuk dengan adanya saling
kirim dan terima signal. Signal yang berupa getaran aliran listrik ini
mengalir dari sel yang satu ke sel yang lainnya, dan dengan bantuan zat
kimia seperti serotonin, terbentuklah hubungan antara sel-sel otak
tersebut.
Rangsangan yang terus-menerus, yang anda berikan melalui
bentuk kegiatan yang berulang-ulang, akan semakin memperkuat
hubungan antar sel-sel otak. Satu sel otak mampu membuat 15.000
hubungan dengan sel otak yang lain. Hubungan yang sangat rumit inilah
yang membentuk jaringan antar sel-sel otak. Pengalaman yang diterima
oleh bayilah yang akan menentukan bentuk jaringan di dalam otak.
Sejak bayi lahir, jaringan ini akan dibentuk dengan cepat sekali,
dan pada usia anak mencapai 3 tahun, otak anak anda akan membuat
kira-kira 1000 trilyun hubungan, dimana jumlah ini adalah 2 kali lipat
dari jumlah hubungan jaringan otak pada orang dewasa.
Hubungan otak yang densitas/kerapatannya sangat tinggi ini
akan tetap dipertahankan sampai dengan umur 10 tahun.
Setelah itu, apa yang akan terjadi?
Setelah anak menginjak usia 11 tahun, hubungan antar sel-sel
otak tersebut akan diseleksi secara alami, dimana hubungan yang sering
digunakan akan semakin diperkuat dan menjadi permanen, sedangkan
hubungan yang tidak pernah digunakan akan diputus/dibuang.
Disinilah pentingnya pengalaman pada usia awal/dini. Disinilah
peran orang tua akan sangat menentukan. Stimulasi yang anda berikan
kepada anak anda akan sangat menentukan apakah hubungan antar selsel
otak anak akan diperkuat atau justru diputus dan dibuang.

Sumber : Tiga Tahun Pertama yang Menentukan